Gunadarma BAAK News

Minggu, 20 April 2014

Opini dan Kasus Kabut Tebal Riau



TEMPO.COPekanbaru - Kabut asap sisa kebakaran hutan dan lahan kian pekat menyelimuti Pekanbaru. Jarak pandang berkisar 200-300 meter. Sinar matahari pun tidak tembus hingga permukaan bumi, sementara langit pada siang hari cenderung gelap kemerahan. "Faktor utamanya, titik api masih tersebar banyak di wilayah Riau," kata analis dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Stasiun Pekanbaru, Agus Widodo, saat dihubungi Tempo, 13 Maret 2014.

Menurut Agus, selain karena titik api yang terus mengeluarkan asap, pergerakan angin yang saat ini cenderung lambat, bahkan tidak bergerak, berkontribusi pada kepekatan asap di ibu kota Provinsi Riau itu. "Jika pergerakan angin cepat, asap juga akan terbawa sehingga tidak menumpuk di satu wilayah," katanya.

Agus menyebutkan dua hari lalu pergerakan angin cenderung cepat, 10-20 km per jam, dan angin bergerak dari timur laut ke selatan dan barat daya. Karena itu, kabut asap turut melanda Sumatera Barat. "Angin saat ini tenang, makanya asap menumpuk di Riau," katanya.

Menurut prakiraan BMKG, cuaca di Riau hari ini dan besok masih cerah. Namun lusa diperkirakan bakal turun hujan walau intensitasnya sedang. Agus mengatakan ada pergerakan udara basah yang masuk ke wilayah Riau akibat pergerakan matahari yang mendekati ekuator sehingga potensi hujan cukup besar. 

Kabut asap pekat yang mengepung Pekanbaru hari ini melumpuhkan aktivitas masyarakat. Lembaga pendidikan mulai taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi diliburkan. Aktivitas penerbangan di Bandara SSK II pun terpaksa ditutup hingga tiga hari mendatang. Jarak pandang sangat pendek dibanding hari sebelumnya, yakni 100-500 meter. Akibatnya, 86 penerbangan, baik keberangkatan maupun kedatangan, dibatalkan. "Kabut asap hari ini sangat mengganggu jarak pandang, tidak memungkinkan untuk melakukan penerbangan," kata Duty Manager Bandara SSK II Pekanbaru, Baiquni, kepada Tempo

Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang diperoleh dari Posko Penanggulangan Bencana Asap menyebutkan satelit Modis memantau 140 titik panas yang tersebar di sejumlah wilayah Riau. 

Sumber:
 
Opini:
Riau kini diselimuti kabut tebal karna dampak dari kebakaran hutan yang terjadi. Mengapa Bencana ini bisa terjadi? ini mungkin memang kehendak sang kuasa, akan tetapi jika ditelisik lagi hal ini bisa dibilang kesalahan besar manusia. Karna ulah manusia yang serakah dengan hasil alam manusia sehingga mereka tidak memikirkan keseimbangan alam serta lingkungannya. Hutan di Riau sesungguhnya salah satu sumber oksigen yang berperan besar dalam kehidupan manusia di bumi, akan tetapi semakin kesini hal itu mungkin bisa saja tidak akan berlaku lagi jika kita sebagai manusia tidak menjaga semua titipan tuhan tersebut dengan baik.
Pencegahan oleh pemerintah memang ada, akan tetapi jika manusia di sekitarnya juga tidak punya niat untuk menjaga itu semua, hal itu juga kurang membantu untuk menjaga hutan yang ada di Riau. Penanaman pohon kembali juga sudah dilakukan oleh pemerintah, akan tetapi pembalakan hutan di Riau juga tidak kalah gencar dengan penanaman pohon kembali. Mengapa hal ini tidak cukup membantu? Ini karena untuk menumbuhkan pohon yang besar dan rindang membutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun bahkan berabad-abad dalam penanamannya. Akan tetapi penebangan yang dilakukan tidak membutuhkan waktu selama itu mungkin hanya hitungan jam, pohon yang tumbuh selama bertahun-tahun tersebut pun tumbang.
Penebangan sesungguhnya boleh dilakukan asal mengikuti prosedur yang ada serta ketentuan yang telah ditentukan dalam undang-undang tertentu yang tentunya undang-undang tersebut sudah memperkirakan agar penebangan pohon tersebut tidak akan berdampak buruk kepada lingkungan karna sudah terdapat antisipasi khusus untuk tetap menjaga keseimbangan alam.
Mungkin banyak yag terlintas dalam pikiran kita semua ketika kita melihat foto dari atas langit yang menggambarkan antara bagian hutan yang botak, dan bagian hutan yang masihter dapat pepohonan yang benar-benar posisinya bersebelahan, kita berfikir sebenernya yang akan diperluas itu di bagian yang mana. Apakah bagian hutan yang sudah botak karna penebangan, atau hutan yang masih rimbun. Sungguh miris sesungguhnya hal ini jika direnungkan.
Kembali untuk permasalahan kabut tebal Riau, hal yang mungkin bisa dilakukan untuk membuat semua dari manusia dan alam tetap aman yaitu jika masih terdapat api yang masih membakar hutan sedangkan hujan tak kurung dating, maka sesungguhnya bisa dibuat hujan buatan, walaupun biayanya yang dikeluarkan mungkin cukup besar, akan tetapi ini hal yang mungkin bisa sangat menolong sebelum benar-benar bencana ini semakin meluas. Jika memang sudah tidak ada api yang menyala, lakukanlah penanaman kembali pohon secara besar-besaran karna hutan Riau adalah salah satu penyumbang Oksigen terbesar. Dan setelahnya lakukanlah penjagaan hutan yang lebih ketat lagi sebelumnya. Dan tumbuhkan rasa kesadaran kita kepada alam dan lingkungan yang sudah baik membantu kehidupan kita dan biarkan alam terus berkembang dengan baik untuk nantinya dinikmati anak cucu kita kelak.

Minggu, 17 November 2013

METODE STATISTIKA NON-PARAMETRIK


1.         Pendahuluan
Pada statistik inferensia tidak jarang ditemui perbedaan antara mean atau proporsi sampel harus dilakukan dengan lebih dari beberapa sampel. Selama ini, perbedaan dilakukan dengan menggunakan distribusi normal dan student’s tes. Pengujian yang dapat dilakukan terhadap parameter dimaksud dari hanya dua buah sampel.
Uji statistik dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu uji statistik parametrik dan uji statistik non parametrik. Uji statistik parametrik menetapkan adanya syarat-syarat tertentu tentang parameter populasi, misalnya mean, variansi. Pengujian hipotesis tersebut didasarkan pada anggapan bahwa sampel acak diambil dari populasi normal. Jika penyimpangan dari kenormalan kecil, maka uji masih cukup baik. Uji nonparametrik merupakan cara pengujian yang tidak berdasar pada pengetahuan tentang distribusi populasi yang dibicarakan, sehingga disebut uji bebas distribusi. Statistik nonparametrik digunakan apabila:
a.       Sampel yang digunakan memiliki ukuran yang kecil.
b.      Data yang digunakan bersifat ordinal, yaitu data-data yang bisa disusun dalam urutan.
c.       Data yang digunakan bersifat nominal, yaitu data-data yang dapat diklasifikasikan dalam kategori & dihitung frekuensinya.
d.      Bentuk distribusi populasi & tempat pengambilan sampel tidak diketahui menyebar secara normal.
e.       Ingin menyelesaikan masalah secara cepat terhadap menggunakan alat hitung.
            Uji nonparametrik juga memiliki kelebihan serta kekurangan. Berikut kelebihan serta kekurangan yang ada dalam uji nonparametrik.
a.       Kelebihan-kelebihan uji nonparametrik:
i.        Perhitungan singkat dan mudah dikerjakan.
ii.      Data tidak selalu berbentuk kuantitatif, tapi dapat berbentuk kualitatif.
iii.    Lebih sedikit dibebani anggapan yang membatasi dibanding dengan uji parametrik padanannya.
b.      Kelemahan uji nonparametrik:
i.        Tidak menggunakan semua keterangan yang tersedia dalam sampel.
ii.      Uji nonparametrik kurang efisien dibandingkan dengan cara parametrik padanannya jika kedua metode dapat digunakan.
iii.    Jika uji parametrik dan nonparametrik keduanya dapat dilakukan pada himpunan data yang sama, maka gunakan teknik parametrik. Tetapi jika anggapan kenormalan tidak berlaku dan data kualitatif maka gunakan nonparametrik.
Terdapat beberapa metode dalam statistika non parametrik. Akan tetapi disini hanya akan membahas 2 metode saja yaitu uji korelasi urutan spearman dan uji tanda atau sign test. Semua kan dijelaskan di bawah ini:
2.         Uji Korelasi Urutan Spearman
            Pengujian korelasi urutan Spearman dicetuskan oleh Carl Spearman pada tahun 1904. Metode ersebut digunakan dengan tujuan untuk mengukur keeratan hubungan antara 2 variabel. Kedua variabel itu tidak memiliki distribusi normal & kondisi varians tidak diketahui sama. Koefisien korelasi urutan Spearman disimbolkan dengan rs dengan ketentuan sebagai berikut:
a.       Jika rs = 1, data sampel menunjukkan hubungan positif sempurna, yaitu urutan untuk setiap data sama.
b.       Jika rs = -1, data sampel menunjukkan hubungan negatif sempurna, yaitu urutan untuk setiap data merupakan urutan terbalik.
c.       Jika rs = 0, data sampel tidak ada hubungan.
Hal tersebut menujukan bahwa nilai rs nilainya berkisar antara -1 sampai dengan 1. Rumus rs = 1 -     dengan tanda d menunjukkan beda urutan dalam 1 pasangan data dan  n menunjukkan banyaknya pasangan data
Untuk menghitung koefisien korelasi urutan Spearman dapat digunakan langkah-langkah berikut:
a.       Nilai pengamatan dari 2 variabel yang akan diukur hubungannya diberi urutan. Jika ada nilai pengamatan yang sama dihitung urutan rata-ratanya.
b.      Setiap pasangan urutan dihitung perbedaannya.
c.       Perbedaan setiap pasangan urutan tersebut dikuadratkan & dihitung jumlahnya, kemudian dihitung nilai rs-nya
3.         Uji Tanda atau Sign Test
            Berdasarkan pada tanda-tanda positif atau negatif dari perbedaan antara pasangan pengamatan., bukan besarnya perbedaan. Uji tanda digunakan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh sesuatu. Langkah-langkah dengan ujia tanda ialah sebagai berikut:
a.       Menentukan formulasi hipotesis:
Ho : Probabilitas terjadinya tanda + dan probabilitas tanda – adalah sama.
H1 : Probabilitas terjadinya tanda + dan probabilitas tanda – adalah berbeda.
b.      Menentukan taraf nyata (α)
Pengujian dapat berbentuk satu sisi atau dua sisi.
c.       Menentukan kriteria pengujian
i.        Pengujian satu sisi
Ho diterima apabila α ≤ probailitas hasil sampel
Ho ditolak apabila α > probailitas hasil sampel
ii.Pengujian dua sisi
Ho diterima apabila α ≤ 2 kali probailitas hasil sampel
Ho ditolak apabila α > 2 kali probailitas hasil sampel
d.      Menentukan nilai uji statistik
Merupakan nilai dari probabilitas hasil sampel. (lihat tabel probabilitas binomial dengan n,r tertentu dengan p = 0.5) r = jumlah tanda yang terkecil.
e.       Membuat kesimpulan
Menyipulkan Ho diterima atau ditolak dengan catatan untuk sampel besar (n≥30), uji statistik adalah CR = (2r-n)/(n)^0.5  dengan r menerangkan jumlah tanda positif dan n menunjukkan jumlah pasangan observasi yang relevan.

Jumat, 01 November 2013

Sampling Probabilistik dan Non-Probabilistik

Probabilistik atau sering disebut dengan probablilitas atau dipahami dengan makna peluang adalah kata yang cukup familiar di sebagian orang terutama hal-hal yang erat kaitannya dengan ilmu statistika. Statistika dalam pengertiannya adalah ilmu yang mempelajari bagaimana merencanakan, mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi, dan mempresentasikan data. Singkatnya, statistika adalah ilmu yang berkenaan dengan data, atau statistika adalah ilmu yang berusaha untuk mencoba mengolah data untuk mendapatkan manfaat berupa keputusan dalam kehidupan.
Hal yang akan dibahas kali ini adalah sampling probabilistik dan sampling non-probabilistik. Kedua hal tersebut merupakan teknik yang dipergunakan dalam contoh pengambilan sample. Berikut penjelasan-penjelasan keduanya:
a.         Sampling probabilistik
Teknik sampling probabilistik singkat kata merupakan teknik yang memberikan peluang atau kata lainnya kesemapatan yang sama untuk setiap kemungkinan. Pemilihan sample bersifat objektif, yaitu dimana anggota pada suatu sample dianggap sama oleh si peneliti itu sendiri dan sifat dari sampling ini yaitu acak atau random. Teknik-teknik yang termasuk ke dalam teknik sampling probabilistik adalah simple random sampling, proportionate stratified random sampling, disproportinate statified random sampling dan cluster sampling (area sampling). Tujuan dari teknik ini yaitu mendapatkan informasi atau sekumpulan data yang seakurat mungkin agar nanti hasil yang didapatkan dari proses pendataan ini bersifat ideal.
b.        Sampling non-probabilistik

Berbanding terbalik dengan teknik sampling probabilistik, teknik sampling non-probabilistik ini tidak memberikan peluang yang sama untuk setiap anggota populasi. Pemilihan sample bersifat subjektif tergantung pandangan dan kepentingan si peneliti untuk memberi peluang pada anggota populasi. Teknik yang termasuk dalam teknik sampling non-probabilistik adalah sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidental, sampling purposive, sampling jenuh dan snowball sampling. Dalam penggunaan nonprobability sampling, pengetahuan, kepercayaan dan pengalaman si peneliti dijadikan objek pertimbangan yang akan menentukan anggota populasi yang akan dipilih sebagai sampel. Karena hal tersebutlah yang mengakibatkan perbedaan peluang antar anggota populasi sebagai sample secara acak.